Tampilkan postingan dengan label Puisi EMAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi EMAK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

SERPIHAN CERMIN

Serpihan cermim                                                                                                                                                                 berguguran di lembar-lembar hari
Jadi penanda bulan retak di penghujung malam
Mengurai-ngurai bayu yang berkesiur bawa mimpi
yang  usai di lumat embun pagi hari

Lalu!
Remah cermin
menyileti kaki-kaki kalbu yang semakin kelabu
waktu jadi sembilu
dan penantian hanya jadi nisan

Serpih makin menyerpih
Rembulan makin pipih
Malam makin kelam
tak ada bayang
semua kembali suram.

Oleh. F.Monthana

BUNDA 1


Bulan cemara masih di kepala
menggantung di mata sayu
serpihan sepi
mengkristal di senja hari
aku tandai tahi lalat kesetiaanmu
sepanjang waktu

Bulan temaram adalah luka
menganga di dada bunda
malam gelap
pekat menyergap
tapi kejora di matamu
tetap bercahaya

kupasang jam pada gelas waktu
di Setiap helaan nafas
ayat-ayat mengangkasa
menguak pintu sorga

 Oleh Feerly Moonthana
B. Lampung, 3 Desember 2000