Tampilkan postingan dengan label Puisi ARI SETYA ARDHI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi ARI SETYA ARDHI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

MENONTON SENJA DI TELEVISI


Ritus iklan-iklan merebut
Harga diri. Sengketa keranda. Tetap
Saja mempertontonkan liang kebutuhan
Jogged dangdut menghantarkan goyangan
harga, mata tersilet gambar-gambar

MELABUHKAN PELANGI


Gerimis berjatuhan menangisi kerindangan
Lahan yang terbentang, menyeret aroma
Mendung menggerusi ketandusan yang
Terpampang pada kedua bola matamu
Pisau berkilau, memendarkan ketajaman gempa
Pelangi darah

MENGHELA BADAI

Kita telah penat menyusuri kesunyian
Pantai kematian itu. Menggoreskan
Nama-nama keabadian sepanjang pesisir
Lambai nyiur menjelma kidung senja
Yang diarak menuju peraduan musim
Selalu, melulu menciptakan denah-denah
Diatas pasir yang kemudian kembali

MELAUTKAN DARAH


Memandang laut dikedua bola matamu
Aku berlayar menempuh kerinduan pantai
Menghela sauh yang dititipkan angin.

MEMBUNUH BUNDA


Turunlah dari peraduan mawar itu
Anakku, melepas kelopak mimpi dari
Kegelisahan reranting berduri
Lalu, kubawa

MENGARUNGI KOTA MATAHARI

Jejak – jejak cinta melangkahi kepepakan
Kota pori matahari melindapi kesetiaan
Yang terseret – seret sepanjang alamat cahaya.
Gemerlap benih – benih rumah abadi
Sinar udara.