Selasa, 11 Desember 2012

Semua Ini Bohong

sadarkah kitahidup ini kebohongan?
bicara tentang kebohongan
bernafas dalam kebohongan
membela dalam kebohongan

bohong...
seakan tlah mendarah daging dinegeri ini
makan minum untuk menyambung kebohongan
sekolah untuk memperpintar kebohongan
bercinta untuk memuaskan kebohongan
bahkan beribadah dalam kebohongan

bohong...
ini semua bohong
benarkah yang kita ucapkan?
benarkah yang dia ucapkan?
benarkah yang kau ucapkan?
ah...pasti semuanya bohong, bohong dan bohong
kita tlah hidup dalam dunia kebohongan...

Muara Bungo, 11 Oktober 2012
Nanda Elansyah

Rabu, 02 Mei 2012

kemarin hari ini

hidup bagai kamuflase yang sulit di terjemahkan backgroundnya,,
baru kemarin aku merasakan eforia kesenangan itu,,
dan hari ini..harus ku teguk lagi pil pait,,yang membungkam hatiku..

dengan penuh perasaan..belum tentu meraih keabadian..
dengan tulus hati,,belum bisa mempercayakan..

aku,,orang yang di tikam hatinya..
di cabik-cabik punggungnya,,
dan di peras keringatnya..
penuh tatih menginginkan kebebasan..
bebas dalam diam..dan bebas dalam masa depan..

sepenuh-penuhnya hati ini..pasti masih ada sedikit ruang kosong,,

aku galau..karna kebebasanku..
(Dhea Ayako)

Bila Nyawa Telah didownload

Mumpung masih hidup, sungguh indah hidup ini bila kita merasa diawasi, merasa setiap saat ada yang sedang mendokumentasikan kita. Yang jelas saat roh kita sudah didownload maka kesempatan untuk membersihkan diri dari virus-virus dan meng-edit kembali menjadi lebih baik itu sudah tidak bisa, kecuali karena rahmatNya


IMAM
''Manusia itu tercipta untuk kehidupan abadi (akhirat). Janganlah engkau jadikan masadepanmu yg abadi itu gelap dan menyengsarakan hanya karena lupa diri dengan kesenangan sesa’at namun menyesatkan masa depanmu itu”

(Adie Jail)

99 nama

99 nama ku eja penuh maknasyahdu,khusuk penuh damba

hening
sunyi

hingga tak mampu sembunyikan
sisa-sisa air mata di hadapannya
dia maha sempurna

biji tasbih kulantunkan dengan kata dzikir
laillahaaillahah
laillahaaillahah
laillahaaillahah

hening,
sunyi
dia maha sempurna

(Thary Eka Oktarika)

“Nyanyian Muhammad”

Lihatlah batuan sumber
Kedamaian yang terang
Terlihat seperti bintang
Tentang awan
Remaja pemberi makanan
Baik pengusir setan

Pemuda segar
Dia tarian dari awan
Pada batu marmer
Membuat suara yang menyenangkan
Setelah langit

Melalui tingkatan yang tinggi
Berburu batu kerlap-kerlip
Dan dengan tendangan awal pemimpin
Dia menarik saudaranya
Seiring dengan itu.

Dibawahnya lembah
Dibawah sepak tendangan bunga


Dan padang rerumputan
Hidup dengan hembusan nafasnya

Namun tidak memegang naungan lembah
Tidak ada bunga
Mereka membungkus disekitar lututnya
Menyanjung dia dengan mata cinta
Setelah dataran membus jalannya
Di jalan ular

Aliran yang bersarang
Dia mudah masuk pergaulan
Pesawat dihiasi perak
Dan dataran sungai-sungai
Dan aliran dari pegunungan
Berteriak dan memanggilnya SAUDARA
Saudaraku bawa saudara-saudaramu
Dengan ayahmu yang tua
Untuk lautan yang kekal
Dengan lengan yang ramah-tamah
Tunggu kami
Yang,ah!,sia-sia dibuka
Merindukan-Nya untuk memahami
Karena kita makan di padang pasir
Keserakahan pasir,matahari di atas sana
Menghisap darah kita,sebuah bukit
Menghambat kami ke telaga!,saudaraku
Bawalah saudara-saudaraku dari pegunungan
Bawalah dengan ayahmu

Datanglah kalian semua
Dan sekarang dia bertambah besar
Sangat elok,seorang umat manusia
Mengusung bangsawan tinggi keatas
Dan kemenangan yang bergulir
Namanya berada disetiap negara,dan kota
Berada dibawah kakinya
Gemuruhnya tidak terhalangi
Membuat puncak menara api
Rumah marmer,sebuah ciptaan
Kekayaan dibelakangnya

Rumah kayu aras beruangkan atlas
Diatas pikulan besar;sambil mendesing
Pukulan dikepalanya
Seribu bendera diudara
Saksi dari kemulian-Nya

Dan dia membawa saudara-saudaranya
Hartanya,anaknya
Menanti kedatangan sang ayah
Untuk kediaman dihatinya

< Meinar Sari >

Senin, 23 April 2012

PUISI TERAKHIR


kupandangi dalamdalam,
kau di tengah kembara malam
sebelum lekang dan melambaikan jemari sebagai bukti
     : kau akan pergi setelah pagi

elegi
kekuatan janji malam ini menua lantas mati
ruparupa rasa antara kita perlahan hambar meninggalkan sepah
bukan aku yang tak datang tepat pukul satu
namun cinta telah memudar sebelum aku tiba

aku melupa,
kemarin tidak guna menjadi prosa
sebab ini puisi terakhir sebelum malam hantarkan kita
ke pembaringan asa yang jadi debu

keberadaan malam mulai membugilkan rasa
aku, menyusun tanya :
di malam mana harus kuakhiri penantian padamu ?




Indralaya, 23 April 2012
kepada puisi malam ini
(Hestyas Priyanto (Pebria Hestiningtias) )

Rabu, 05 Oktober 2011

SERPIHAN CERMIN

Serpihan cermim                                                                                                                                                                 berguguran di lembar-lembar hari
Jadi penanda bulan retak di penghujung malam
Mengurai-ngurai bayu yang berkesiur bawa mimpi
yang  usai di lumat embun pagi hari

Lalu!
Remah cermin
menyileti kaki-kaki kalbu yang semakin kelabu
waktu jadi sembilu
dan penantian hanya jadi nisan

Serpih makin menyerpih
Rembulan makin pipih
Malam makin kelam
tak ada bayang
semua kembali suram.

Oleh. F.Monthana

BUNDA 1


Bulan cemara masih di kepala
menggantung di mata sayu
serpihan sepi
mengkristal di senja hari
aku tandai tahi lalat kesetiaanmu
sepanjang waktu

Bulan temaram adalah luka
menganga di dada bunda
malam gelap
pekat menyergap
tapi kejora di matamu
tetap bercahaya

kupasang jam pada gelas waktu
di Setiap helaan nafas
ayat-ayat mengangkasa
menguak pintu sorga

 Oleh Feerly Moonthana
B. Lampung, 3 Desember 2000

MENONTON SENJA DI TELEVISI


Ritus iklan-iklan merebut
Harga diri. Sengketa keranda. Tetap
Saja mempertontonkan liang kebutuhan
Jogged dangdut menghantarkan goyangan
harga, mata tersilet gambar-gambar

MELABUHKAN PELANGI


Gerimis berjatuhan menangisi kerindangan
Lahan yang terbentang, menyeret aroma
Mendung menggerusi ketandusan yang
Terpampang pada kedua bola matamu
Pisau berkilau, memendarkan ketajaman gempa
Pelangi darah

MENGHELA BADAI

Kita telah penat menyusuri kesunyian
Pantai kematian itu. Menggoreskan
Nama-nama keabadian sepanjang pesisir
Lambai nyiur menjelma kidung senja
Yang diarak menuju peraduan musim
Selalu, melulu menciptakan denah-denah
Diatas pasir yang kemudian kembali

MELAUTKAN DARAH


Memandang laut dikedua bola matamu
Aku berlayar menempuh kerinduan pantai
Menghela sauh yang dititipkan angin.

MEMBUNUH BUNDA


Turunlah dari peraduan mawar itu
Anakku, melepas kelopak mimpi dari
Kegelisahan reranting berduri
Lalu, kubawa

MENGARUNGI KOTA MATAHARI

Jejak – jejak cinta melangkahi kepepakan
Kota pori matahari melindapi kesetiaan
Yang terseret – seret sepanjang alamat cahaya.
Gemerlap benih – benih rumah abadi
Sinar udara.

GEBYAR SASTRA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI ULANG TAHUN HISKI KOMISARIAT BUNGO / SANGGAR KUBU BUNGO yang ke-1

     Gebyar sastra dalam rangka memperingati hari ulang tahun HISKI KOMISARIAT BUNGO / SANGGAR KUBU BUNGO yang ke - 1 dan peringatan bulan bahasa / hari sumpah pemuda yang ke - 83 kabupaten bungo 2011  

A. LATAR BELAKANG
       Didasarkan pada kenyataan saat ini bahwa keidupan para penggiat sastra, sastrawan, guru-guru bahasa dan sastra indonesia kurang mendapat dukungan dari pemerintah maupun masyarakat menjadi ironis bila melihat peran sastra sebagai sarana transformasi sosial budaya. Maka Himpunan Sarjana Kesusateraan Indonesia (HISKI) Komisariat Bungo / sanggar kubu bungo mengajak pemerintah bermitra memberdayakan pembelajaran sastra dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi melalui berbagai kegiatan kesastraan baik yang bersifat akademik maupun non akademik.